Kamis, 04 Maret 2010

ranah pendidikan islam

I. PENDAHULUAN
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumberdaya Manusia. Pendidikan merupakan salah satu Modal Dasar pembangunan suatu bangsa. Setiap manusia dalam perjalanan hidupnya selalu membutuhkan orang lain. Untuk dapat melangsungkan hidupnya manusia senantiasa berusaha untuk mengembang kan Akal dan segala kemampuannya. Dalam hal inilah pendidikan berperan penting. Secara garis besar, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga seseorang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhannya.
Sedangkan dalam metodologi islam pendidikan adalah dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia sehingga tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikitpun. Baik segi jasmani maupun segi rohani, baik kehidupannya secara fisik maupun kehidupannya secara mental, dan juga segala kegiatannya di bumi ini. Pada dasarnya pendidikan islam haruslah didasarkan pada asas pokok yaitu; bahwa manusia adalah makhluk ALLAH dan dia diamanati tugas untuk memikul amanah. berbeda dengan makhluk yang lain.

II. RANAH PENDIDIKAN ISLAM
Secara konvensional, telah lama dikenal taksonomi tujuan pendidikan yang terdiri atas aspek cipta, rasa, dan karsa. Gagne menyusun taksonomi tujuan-tujuan pendidikan yang komposisinya terdiri atas aspek kecakapan, intelektual, strategi kognitif, pengetahuan verbal, keterampilan motorik, dan sikap.
Taksonomi tujuan pendidikan yang lebih populer dan banyak dianut dalam proses belajar mengajar di Indonesia adalah sebuah konsep yang di gagas oleh Benjamin S. Bloom. Menurutnya pendidikan itu meliputi tiga ranah (Domain); yaitu Pengetahuan (Cognitive Domain), Sikap (Affective Domain), dan Keterampilan (Psychomotoric Domain).
Secara definitive dapat dijelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah; perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya. Baik perubahan pada tingkah laku individu dalam kehidupan individualnya atau dalam kehidupan masyarakatnya maupun alam sekitarnya.
Muhmmad Athiya al-Abrasyi dalam kajiannya tentang tujuan pendidikan islam menyimpulkan tujuan bagi pendidikan islam yaitu;
1. pembinaan akhlak.
2. menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat.
3. penguasaan ilmu, dan
4. ketrampilan bekerja dalam masyarakat.
Miqdad Yaldjan mendefinisikan pendidikan islam sebagai usaha menumbuhkan dan membentuk manusia muslim yang sempurna dari segala aspeknya; Kesehatan, Akal, Keyakinan, Kejiwaan ahlak, Kemauan, Daya cipta dalam semua tingkat pertumbuhan yang disinari oleh cahaya islam dengan versi dan metode-metode yang ada.
Dari persepsi Yaldjan tersebut, dapat dipetik sebuah pengertian bahwa proses kependidikan islam merupakan upaya serta usaha mempersiapkan manusia yang sempurna dalam segenap aspeknya untuk menunjang kehidupannya di dunia (jangka pendek) dan untuk kepentingan hidup manusia sesudah mati, yaitu kehidupan akhirat kelak (jangka panjang), dengan metodologi dan prinsip-prinsip yang dibawa islam.
Masalah tujuan pendidikan sangat terkait dengan nilai-nilai. Menurut Mohd Labib el-Najihy, nilai-nilai yang menjadi dasar tujuan pendidikan memberikan bimbingan yang berbeda-beda pada proses pendidikan berdasarkan jenisnya. Diantara nilai-nilai tersebut antara lain nilai materi, nilai social, nilai yang berkaitan dengan kebenaran, nilai keindahan, nilai akhlak (etika) yang menjadi sumber perasaan berkewajiban dan bertanggung jawab, dan nilai keagamaan atau rohaniah yang menghubungkan manusia dengan penciptanya dan membimbingnya kearah kesempurnaan.
Pendidikan islam sekalipun, menaruh perhatian pada keseluruhan nilai tersebut. Tetapi pendidikan islam lebih memberi perhatian pada nilai-nilai religius (rohaniah) dan akhlak, dan berusaha menundukkan semua nilai-nilai yang lain didalamnya, sehingga nilai religiusdan akhlak menjadi bingkai bagi pendidikan islam. Rohaniah dan akhlak juga sekaligus menjadi tujuan akhir dan utama bagi pendidikan islam. Disinilah letak perbedaan yang signifikan antara pendidikan islam dengan pendidikan-pendidikan yang lain.
Terkait dengan upaya pembinaan umat, pendidikan islam harus berangkat dari nilai-nilai normative islami. Nilai-nilai religius akan melahirkan insan-insan pendidikan yang mampu mengemban norma syari’ah, sedangkan nilai-nilai etis akan melahirkan insan-insan pendidikan yang mampu menampilkan perilaku Akhlakul Karimah.
Masih sejalan dengan pandangan diatas, Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani mengemukakan bahwa pendidikan islam merupakan usaha untuk mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan kemasyarakatannya serta kehidupan alam sekitarnya melalui sejumlah proses kependidikan. Dengan definisi demikian, pendidikan islam mempunyai serangkaian tugas; yaitu membimbing, membina, dan mengarahkan potensi hidup manusia berupa kemampuan dasar serta kemampuan ajarnya. Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan terjadi perubahan (kearah yang lebih baik) sebagai bekal menjalankan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.
Seminar pendidikan islam se-Indonesia tahun 1990 memberi pengertian pendidikan islam sebagai bimbingan dan arahan untuk menjalankan ajaran islam dengan sebaik-baiknya serta mengajarkan, melatih, dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam. Dalam hal ini, pendidikan islam menempati fungsi sebagai alat kontrol terhadap proses sosialisasi ajaran islam dalam maknanya yang sangat luas. Ketika didalam kehidupan sosial terdapat sesuatu yang menyimpang dari nilai normative islam, disitulah pendidikan islam berperan untuk mengembalikan posisi tersebut pada keadaan yang esensial dalam islam.
Sedangkan rumusan hasil kongres se-Dunia II tentang pendidikan islam melalui seminar tentang konsepsi kurikulum pendidikan islam (1980) menyatakan bahwa; “pendidikan islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan diri pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmani, keilmiahan, secara individual maupun kelompok serta mendorong aspek-aspek itu kearah kebaikan dan kesempurnaan hidup.
Dari formulasi pendidikan islam diatas, diperoleh gambaran bahwa pendidikan islam berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia paripurna, atau dalam terminology pendidikan disebut dengan Muslim Paripurna atau Insan Kamil. Konsep diatas berangkat dari dasar filosofik bahwa islam merupakan sumber nilai yang universal. Oleh karena itu, paradigma pendidikannya memandang manusia dalam kerangka pandang yang holistik. kegiatan pendidikan islam tidak hanya berupa pengisian otak (pengetahuan), namun lebih dari itu, dimana ada nilai-nilai lain yang ingin diraih. Demi kehidupan kemanusiaan yang substansif, pendidikan islam melakukan proses pengisian kalbu sebagai upaya memperteguh potensi imaniah. Dalam hal ini, aktivitas tersebut merupakan proses memasukkan nilai normative religius dan etik (akhlak).
Dari berbagai pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa;
pertama, pendidikan islam merupakan usaha bimbingan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan jasmanidan rohani menurut ajaran islam.
Kedua, pendidikan islam merupakan suatu usaha untuk mencapai pertumbuhan kepribadian sesuai dengan ajaran islam dalam proses kependidikan melalui latihan-latihan akal pikiran (kecerdasan), kejiwaan, keyakinan, kemauan, dan perasaan serta pancaindera dalam seluruh aspek kehidupan manusia.
Ketiga, pendidikan islam adalah usaha bimbingan secara sadar dan sengaja serta berkelanjutan sesuai dengan potensi dasar (fitrah) dan kemampuan ajar (pengaruh luar) baik secara individual maupun kelompok agar manusia menghayati serta mengamalkan ajaran islam secara utuh dan benar (sempurna).

III. PENUTUP
Apabila konsep yang digagas Benjamin S. Bloom merumuskan bahwa taksonomi tujuan pendidikan meliputi tiga ranah; pengetahuan, sikap, dan keterampilan, maka tujuan akhir pendidikan islam telah mencakup ketiganya.
Pendidikan islam ditujukan untuk mencapai pertumbuhan diri manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indera.
Pendidikan islam mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmani, keilmiahan, secara individual maupun kelompok serta mendorong aspek-aspek itu kearah kebaikan (dunia-akhirat) dan pencapaian kesempurnaan hidup (insane kamil).
Namun demikian, Pendidikan islam lebih menitik beratkan perhatiannya pada aspek rohaniah (religius) dan Akhlak (etika), dan berusaha menundukkan aspek-aspek yang lain didalamnya, sehingga nilai religius dan etika menjadi bingkai bagi pendidikan islam.

IV. REFERENSI
- geibreil.wordpress.com/2008/03/24
- H. Zahara Idris, H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, PT.GRAMEDIA WIDIA SARANA INDONESIA, Jakarta,1992
- Drs. H. Baharuddin, M.Pdi., Moh. Makin, S.ag., Am. Pd., PendidikanHumanistik (Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam dunia Pendidikan), AR-RUZZMEDIA, 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar